Tidak selamanya memberikan semangat dan ucapan positive ke orang lain merupakan hal yang baik, bisa jadi malah kamu telah melakukan toxic positivity. Dirangkum dari thepsychologygroup.com, toxic positivity merupakan sebuah perilaku yang men-generalisasi secara berlebihan dan membuat semua situasi seakan-akan bahagia dan optimis.
Perilaku ini akhirnya menghasilkan penyangkalan, minimalisasi, dan menolak perasaan yang orang lain rasakan. Padahal normal saja untuk manusia memang merasakan emosi sedih, marah, atau kecewa. Ketika sikap over positif dilakukan secara berlebihan, dapat membuat perasaan orang lain merasa terbungkam, dan menjadi merasa bersalah atas perasaannya. Pada saat itu terjadi berarti kita sedang melakukan toxic positivity.
Ada berbagai ciri-ciri seseorang atau mungkin kamu sendiri terjebak dalam toxic positivity, hal ini tentunya tidak baik dan tentunya harus segera disadari. Berikut ini ciri kamu terjebak dalam situasi tersebut :
- Lebih sering menyingkirkan masalah daripada menghadapinya
- Merasa bersalah ketika merasa sedih, kecewa, atau marah
- Mempermalukan orang lain ketika mereka tidak bersikap positif
- Membanding-bandingkan masalah dengan orang lain
Terjebak dalam situasi seperti ini terus menerus dapat berdampak buruk pada kehidupan sosial.

Dampak Buruk Toxic Positivity
Ketika terjebak dalam situasi ini belum tentu orang atau kamu sendiri bisa langsung menyadari, terjebak dalamnya juga memiliki dampak buruk. Salah satunya jadi menganggap diri tidak berharga, meremehkan rasa kehilangan, dan yang paling buruk seseorang bisa saja mengabaikan rasa bahaya. Hal ini terjadi karena rasa optimisme, harapan, dan pengampunan yang tinggi sehingga mengabaikan rasa bahaya yang terjadi.

Ada beberapa contoh kalimat yang mungkin secara tidak sadar kamu ucapkan kepada rekan kalian.
“Yuk semangat yuk!”
“Kamu sih masih mending, aku lebih parah”
“Tetap positif, buang jauh perasaan negatifmu itu!”
“Semua itu ada hikmahnya”
“Semuanya pasti berlalu”
Ada baiknya jika ketika kita mendengarkan seseorang, kita memvalidasi apa yang dirasakan terlebih dahulu, misalnya saja ketika teman jenuh dengan kerjaan daripada bilang “Yuk semangat yuk” kamu bisa menyampaikan “Kamu sepertinya sedang hectic, berhenti sejenak gapapa anti lanjut lagi”. Dengan kalimat seperti itu kamu tidak mendorong seseorang untuk tetap semangat padahal dalam keadaan pusing dan stress dalam menjalani pekerjaan. Sekarang kamu sudah mengerti apa itu toxic positivity, dan semoga kita jadi lebih peka dengan sekitar.







